Makan-makan

Program MBG · Kebijakan Publik

Di Balik Piring yang Diklaim Gratis

Program Makan Bergizi Gratis hadir dengan niat mulia. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, yang tampak bukan sekadar kebijakan gizi — melainkan sebuah arsitektur manfaat yang tidak mengalir ke tempat yang semestinya.

Sejak diluncurkan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disambut dengan optimisme resmi yang besar. Pemerintah menggambarkannya sebagai terobosan sosial: anak-anak sekolah akan mendapatkan asupan gizi cukup, ibu hamil terlindungi, dan generasi bangsa tumbuh lebih sehat. Narasi ini menyentuh dan sulit dibantah — siapa yang tidak ingin anak-anak negeri ini tumbuh dengan gizi yang baik?

Namun kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niatnya. Ia harus dinilai dari desainnya, eksekusinya, dan — yang paling penting — dari siapa yang sesungguhnya menerima manfaat paling besar. Ketika ketiga hal itu ditelusuri pada MBG, gambar yang muncul jauh lebih rumit dari narasi resmi yang disuguhkan.


Salah Sasaran yang Tidak Disadari

Argumen paling dasar yang perlu diajukan adalah ini: apakah makan siang benar-benar kebutuhan paling mendesak anak-anak Indonesia hari ini?

Data dan kenyataan di lapangan menunjukkan jawaban yang lebih kompleks. Biaya pendidikan yang seharusnya gratis ternyata masih bocor melalui berbagai kanal — Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diwajibkan, seragam yang harus dibeli di koperasi sekolah, iuran listrik dan kebersihan yang dikumpulkan tiap bulan, hingga berbagai pungutan informal yang tidak pernah tercatat dalam anggaran resmi. Orang tua dari keluarga prasejahtera menghadapi tekanan finansial bukan hanya soal perut anak-anaknya, melainkan soal keberlangsungan anak mereka di sekolah itu sendiri.

Dalam konteks itu, satu porsi makan siang sehari — yang nilainya berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 — menjadi solusi yang tidak seimbang dengan masalah yang ada. Anak yang lapar di sekolah bukan semata karena tidak ada makanan gratis; ia lapar karena keluarganya kekurangan pendapatan, karena harga bahan pokok terus naik, dan karena beban pendidikan yang seharusnya ditanggung negara justru terus digeser ke pundak orang tua.

Satu porsi makan siang tidak akan banyak berarti jika anak tidak bisa berkonsentrasi karena orang tuanya stres memikirkan biaya sekolah yang harus dibayar besok.

Lebih jauh, manusia makan tiga kali sehari. Program yang hanya menyentuh satu kali makan — dan itu pun dengan kualitas yang sering dipertanyakan — tidak cukup menjawab masalah gizi secara substantif. Laporan demi laporan dari berbagai daerah mencatat makanan yang basi sebelum sampai ke tangan siswa, porsi yang tidak memenuhi standar gizi yang dijanjikan, hingga hidangan yang akhirnya tidak dimakan karena siswa enggan atau tidak selera. Jika efektivitas gizinya sendiri dipertanyakan, apa yang sesungguhnya sedang dibeli dengan anggaran yang besar itu?


Harga yang Dibayar Diam-Diam

Program berskala nasional yang menyerap bahan pangan dalam jumlah besar secara terpusat memiliki efek yang jarang dibicarakan dalam forum resmi: ia menekan sisi suplai pasar terbuka. Ketika dapur-dapur SPPG yang tersebar di seluruh wilayah bersaing dengan pasar untuk mendapatkan telur, ayam, beras, dan sayuran, harga komoditas-komoditas itu naik. Inilah yang disebut economists sebagai demand shock — lonjakan permintaan yang tidak diikuti oleh peningkatan suplai secara proporsional.

Yang Perlu Digarisbawahi

Kenaikan harga bahan pokok akibat MBG tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berlangsung bersamaan dengan inflasi yang sudah menekan daya beli masyarakat, stagnasi pendapatan riil, dan ketidakpastian ekonomi pascapandemi yang belum sepenuhnya pulih.

Pihak yang paling terdampak dari dinamika ini adalah kelompok yang paling rentan: ibu rumah tangga yang belanja harian di pasar tradisional, dan pelaku UMKM penjual makanan yang margin usahanya sudah tipis sejak sebelum MBG diluncurkan. Mereka terjepit dari dua arah sekaligus — biaya bahan baku naik, sementara daya beli konsumen tidak bergerak. Menaikkan harga jual berarti kehilangan pelanggan; bertahan di harga lama berarti menggerus modal.

Sementara itu, program yang diklaim pro-rakyat ini justru tidak melibatkan para pedagang kecil tersebut dalam rantai nilainya. Kontrak pengadaan bahan makanan mengalir ke distributor besar, bukan ke warung-warung dan pasar tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi informal Indonesia. Perputaran uang terkonsentrasi, bukan menyebar.


Siapa yang Sesungguhnya Diuntungkan?

Pertanyaan ini adalah inti dari seluruh perdebatan tentang MBG, dan jawabannya tidak nyaman untuk didengar.

Rantai pasok MBG dirancang melalui dapur-dapur SPPG yang tersebar. Dalam praktiknya, banyak dari dapur-dapur ini dikelola oleh koperasi yang berafiliasi dengan institusi negara — termasuk TNI dan Polri. Beberapa partai politik yang tergabung dalam koalisi pemerintah pun tercatat memiliki dapur yang terafiliasi dengan struktur mereka. Ini bukan tuduhan; ini adalah fakta yang bisa ditelusuri dari berbagai pemberitaan investigatif.

Rakyat mendapat manfaat kecil — satu porsi makan sehari. Institusi dan lingkaran berkuasa mendapat kontrak, pengaruh, dan citra politik yang jauh lebih bernilai.

Pola semacam ini dalam ilmu politik dikenal sebagai distributive politics: manfaat kecil didistribusikan secara luas agar program sulit dikritisi tanpa terlihat “anti-rakyat”, sementara keuntungan besar — dalam bentuk kontrak, akses sumber daya, dan kapital politik — tersentralisasi pada kelompok yang sudah memiliki akses kekuasaan. Program menjadi tameng wacana sekaligus mesin redistribusi ke atas.

Ironisnya, struktur ini juga menciptakan celah korupsi yang lebar. Anggaran yang besar, dikelola melalui ribuan titik dapur yang tersebar, dengan mekanisme pengawasan yang belum terbukti kuat, adalah kombinasi yang sangat tidak ideal dari sudut pandang tata kelola. Pengadaan yang tidak transparan, standar kualitas yang sulit diverifikasi, dan absennya mekanisme komplain yang efektif dari orang tua dan siswa menciptakan ruang gelap yang sulit disorot.


Program yang Tidak Bertanya pada Rakyatnya

Salah satu dimensi yang paling sering luput dari diskusi adalah: program sebesar ini dirancang tanpa partisipasi bermakna dari kelompok yang paling terdampak. Orang tua tidak ditanya apakah mereka lebih membutuhkan makan siang gratis atau kepastian bahwa biaya LKS tidak lagi membelit. Pelaku UMKM penjual makanan tidak dilibatkan dalam perancangan rantai pasok. Pedagang pasar tradisional tidak diberi ruang dalam ekosistem pengadaan.

Yang ada adalah program yang turun dari atas, dengan narasi yang sudah dikemas, dan masyarakat diposisikan sebagai penerima pasif — bukan sebagai subjek yang berhak menentukan solusi atas permasalahan mereka sendiri.

Ketika ada laporan makanan tidak layak, komplain sulit disalurkan. Ketika ada indikasi penyelewengan, transparansi anggaran tidak memadai untuk melacaknya. Ketika masyarakat mempertanyakan efektivitas program, mereka mudah dilabeli sebagai pihak yang tidak mendukung upaya pemerintah untuk menyejahterakan rakyat.


Yang Seharusnya Dilakukan

Kritik bukan berarti menolak bahwa gizi anak adalah persoalan penting. Gizi buruk adalah masalah nyata di banyak daerah, dan negara memang punya kewajiban untuk mengatasinya. Masalahnya bukan pada tujuannya, melainkan pada cara kerjanya.

Program gizi yang efektif seharusnya dirancang dengan melibatkan rantai pasok lokal secara sungguh-sungguh — bukan sekadar retorika — sehingga uang negara benar-benar berputar di ekonomi komunitas. Ia harus disertai mekanisme pengawasan independen yang transparan, bukan pengawasan internal yang rentan konflik kepentingan. Dan yang terpenting, ia harus menjawab kebutuhan yang paling nyata dirasakan masyarakat, bukan kebutuhan yang paling mudah divisualisasikan sebagai capaian program.

Jaminan pendidikan yang benar-benar bebas biaya. Kepastian bahwa tidak ada lagi pungutan informal yang membebankan orang tua. Akses layanan kesehatan yang tidak bergantung pada kemampuan bayar. Perlindungan UMKM dari tekanan inflasi yang tidak mereka ciptakan. Inilah daftar yang lebih panjang, lebih kompleks, dan lebih tidak telegenik dibanding foto-foto anak sekolah menyantap makan siang — namun jauh lebih dekat dengan akar persoalan yang sesungguhnya.


Penutup: Tentang Apa yang Kita Diam-kan

Ada bahaya besar ketika sebuah program dikemas sedemikian rupa sehingga mengkritisinya terasa seperti mengkhianati anak-anak yang lapar. Retorika semacam ini mengunci ruang diskusi yang seharusnya terbuka lebar dalam demokrasi. Kritik terhadap MBG bukan serangan terhadap anak-anak; ia adalah pertanyaan yang sah tentang apakah uang publik — yang jumlahnya tidak sedikit — digunakan dengan cara paling efektif untuk kelompok yang paling membutuhkan.

Ketika jawaban atas pertanyaan itu ternyata adalah: tidak sepenuhnya, maka kita punya kewajiban untuk mengatakannya. Bukan untuk merobohkan program, melainkan untuk mendorongnya menjadi lebih baik — lebih tepat sasaran, lebih transparan, dan lebih sungguh-sungguh berpihak pada mereka yang diklaimnya sebagai penerima manfaat.

Karena pada akhirnya, makan siang yang gratis tidak akan pernah benar-benar gratis jika orang yang menyiapkannya harus membeli bahan makanan yang lebih mahal, dengan penghasilan yang tidak berubah, di tengah inflasi yang terus berjalan.

Tentang Esai Ini
Tulisan ini merupakan analisis kritis terhadap kebijakan publik berdasarkan fakta-fakta yang telah terdokumentasi dan beredar di ruang publik. Tujuannya bukan untuk menolak program gizi anak, melainkan untuk mendorong diskusi yang lebih substantif tentang desain, eksekusi, dan distribusi manfaat kebijakan tersebut.